Transkrip Freeport: Pengalaman Saya, Presiden Agak Koppig

Pernyataan disampaikan Setya Novanto, tertulis dalam transkrip utuh.
Transkrip Freeport: Pengalaman Saya, Presiden Agak Koppig
Presiden Joko Widodo.

VIVA.co.id - Istilah "koppig" sempat terkenal dalam sejarah Indonesia. Tepatnya dalam hubungan antara dua tokoh besar Indonesia Bung Karno dan Jenderal Soeharto.

Bung Karno disebutkan pernah menganggap Soeharto sebagai "opsir koppig" atau opsir yang keras kepala. Ini karena Soeharto menolak menjalankan perintah darinya.

Namun, kini, kata "koppig" kembali meramaikan publik Tanah Air. Bukan antara Soekarno-Soeharto lagi, melainkan karena skandal Freeport.

Ini terungkap dalam transkrip utuh antara Ketua DPR Setya Novanto, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dan pengusaha Muhammad Riza Chalid, yang sudah diserahkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

"Pengalaman saya ya Pak. Presiden ini agak koppig (kopeh, bahasa Belanda), tapi bisa merugikan semua," kata Setya Novanto saat berbicara dengan Maroef Sjamsoeddin.

Novanto mengatakan, karakter Jokowi jika sudah mengatakan tidak berarti tidak. Sikap itu, kata dia, akan merugikannya. Bahkan membuat Ketua Mahkamah Agung merasa tidak klop.

"Koppig-nya dia buat bahaya kita."

Berikut petikan transkrip Setya Novanto:

Pengalaman saya ya Pak. Presiden ini agak koppig (kopeh, bahasa belanda) tapi bisa merugikan semua. Contoh yang paling gampang itu PSSI. Apa susahnya ini ya, saya bicara. Saya harus bicara Freeport itu saya bicara dulu PSSI. Saya bilang, Pak Presiden pengalaman saya zaman SBY, SBY turun tangan.
TVOne yang sudah menyiarkan liga dan lakunya bukan main, terpaksa harus dihentikan karena sudah teriak-teriak, ini menyangkut sponsor, pengangguran mereka, menyangkut macem-macem. Jadi bisa menurunkan juga kredibilitas isu-isu presiden.
Presiden, Pak Ketua khusus PSSI saya tidak ada apa, apa tidak ikut campur dengan pihak mereka. Supaya Indonesia itu bangkit. Saya bilang, ada peraturan FIFA mengharuskan. Kalau saya yang kurang menguasai, Ketua MA menyampaikan hukum-hukumnya.
Disampaikan pak, hukum-hukumnya. Kalau sudah bilang enggak, ya enggak, susah kita. Tetap saja. Kita dikte saja. Gitu Pak. Koppignya dia buat bahaya kita. Kedua, Ketua MA sampai merasani sama saya enggak berkenan sama presiden. Wah gak cocoklah.

No comments

Berkomentarlah dengan sopan dan santun

© Copyright Indtruth 2015. Powered by Blogger.